UOBF Puskesmas Jetak Sosialisasikan P3LP di SMAN 1 Montong, Perkuat Peran Sekolah Tangani Luka Psikologis
Montong, 15/1 -Upaya memperkuat peran sekolah dalam menjaga kesehatan mental peserta didik terus dilakukan. Salah satunya melalui kegiatan Sosialisasi Pelaksanaan First Aider Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) yang digelar UOBF Puskesmas Jetak di ruang meeting SMAN 1 Montong.
Kegiatan ini diikuti oleh Plt. Kepala SMAN 1 Montong, Evi Aviyah, pembina UKS Hasniyah, guru Bimbingan Konseling Ziya, serta jajaran pengurus UKS. Sosialisasi ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan pemahaman tenaga pendidik dan pengelola UKS terkait penanganan awal gangguan psikologis yang kerap dialami remaja usia sekolah.
Dalam sambutan pembuka, Plt. Kepala SMAN 1 Montong, Evi Aviyah, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Puskesmas Jetak yang telah menjadikan sekolah sebagai mitra dalam program kesehatan mental. Menurutnya, tantangan dunia pendidikan saat ini tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga kesejahteraan psikologis siswa.
“Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental. Melalui sosialisasi P3LP ini, kami berharap guru dan pengurus UKS mampu menjadi garda terdepan dalam memberikan pertolongan awal ketika siswa mengalami luka psikologis,” ujarnya.
Materi sosialisasi disampaikan langsung oleh Dr. Awalis, Kepala Puskesmas Jetak. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa luka psikologis sering kali tidak terlihat secara kasat mata, namun dampaknya dapat memengaruhi perilaku, prestasi belajar, hingga relasi sosial siswa.
“Luka psikologis bisa muncul akibat tekanan akademik, masalah keluarga, perundungan, atau konflik sosial. Jika tidak ditangani sejak dini, dampaknya bisa berkepanjangan,” jelas Dr. Awalis.
Ia menekankan bahwa P3LP bukanlah terapi klinis, melainkan bentuk pertolongan pertama yang dapat dilakukan oleh guru, pembina UKS, maupun teman sebaya. Langkah-langkah sederhana seperti mendengarkan dengan empati, memberikan rasa aman, dan mengarahkan ke layanan profesional menjadi inti dari First Aider P3LP.
Dalam sesi interaktif, peserta diajak memahami tanda-tanda awal gangguan psikologis, teknik komunikasi yang tepat, serta alur rujukan ke fasilitas kesehatan jika diperlukan. Guru BK dan pengurus UKS terlihat aktif berdiskusi, membahas berbagai kasus yang kerap ditemui di lingkungan sekolah.
Pembina UKS Hasniyah menyambut baik kegiatan ini. Ia menilai sosialisasi P3LP sangat relevan dengan peran UKS sebagai unit layanan kesehatan di sekolah. “Selama ini UKS identik dengan pertolongan pertama fisik. Dengan P3LP, kami mendapat pemahaman baru bahwa pertolongan psikologis juga sama pentingnya,” katanya.
Senada, guru BK Ziya menilai kegiatan ini memperkuat sinergi antara sekolah dan puskesmas dalam menangani permasalahan siswa secara holistik. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci menciptakan lingkungan belajar yang sehat.
Peran Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Prima Waluyo dinilai sangat strategis dalam implementasi P3LP di sekolah. Waka Kesiswaan menjadi penghubung antara guru, wali kelas, BK, dan UKS dalam menangani permasalahan siswa, terutama yang berkaitan dengan perilaku dan kesejahteraan mental.
Dalam sesi diskusi, Waka Kesiswaan menekankan pentingnya koordinasi lintas bidang agar penanganan siswa dapat dilakukan secara cepat dan tepat. “Ketika ada indikasi luka psikologis, sekolah harus bergerak bersama. Tidak boleh berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Melalui sosialisasi ini, SMAN 1 Montong diharapkan mampu membangun sistem dukungan awal bagi siswa yang mengalami luka psikologis. Kehadiran UOBF Puskesmas Jetak sebagai mitra kesehatan menjadi langkah strategis dalam menciptakan sekolah yang peduli, responsif, dan berorientasi pada kesejahteraan mental peserta didik.[pakro]
SMA NEGERI 1 MONTONG